![]() |
| Ilustrasi: Tellasan Topa’: Ketika ‘Rasa’ Harus Terus Dirayakan. (AI/Gemini) |
Di Madura, lebaran belum benar-benar selesai saat gema takbir mereda di
hari pertama Idulfitri. Ada satu momen lagi yang ditunggu-tunggu, yang datang
tujuh hari setelahnya: Hari Raya Ketupat.
Ketupat bukan sekadar makanan. Ia adalah simpul—dari anyaman janur yang
sederhana, tersimpan makna yang tidak sederhana. Dalam bahasa Jawa, “kupat”
sering dimaknai sebagai ngaku lepat—mengakui kesalahan. Maka, tujuh hari
setelah saling bermaafan, masyarakat seperti diajak kembali mengingat: bahwa
memaafkan itu proses, bukan peristiwa sekali jadi. Kita Kembali dilekatkan melalui
rasa dan jumpa yang perlu terus dijaga.
Di Madura, hari raya ketupat terasa lebih cair. Tidak seformal hari
pertama lebaran. Orang-orang datang tanpa banyak protokoler. Tidak ada tuntutan
baju baru atau sajian yang harus sempurna. Justru di situlah letak
hangatnya—lebih jujur, lebih apa adanya.
Di meja-meja rumah, ketupat disandingkan dengan opor, sate, kaldu atau
kadang hidangan khas lokal yang sederhana. Tapi yang paling terasa bukan
rasanya di lidah, melainkan suasana di sekitarnya. Tawa yang lebih lepas,
obrolan yang tidak lagi kaku, dan kehadiran yang tidak lagi dibebani
formalitas.
Mungkin karena jaraknya yang tujuh hari itu, orang-orang sudah sempat
kembali pada rutinitas. Sudah sempat mencerna pertemuan-pertemuan sebelumnya.
Sudah sempat merasakan bahwa “maaf” yang diucapkan kadang belum sepenuhnya
meresap. Dan di hari raya ketupat ini, semuanya seperti diberi kesempatan
kedua—untuk hadir lebih tulus.
Hari raya ketupat juga mengajarkan bahwa kebersamaan tidak selalu harus
megah. Ia bisa hadir dalam bentuk sederhana: sepiring ketupat, sambal yang
tidak terlalu pedas, dan percakapan ringan di teras rumah. Terkadang, ingatan
masa lalu dan tawa kecil cukup memberikan suasana hangat.
Di tengah dunia yang serba cepat, tradisi seperti ini terasa seperti
jeda. Sebuah cara masyarakat menjaga agar lebaran tidak habis begitu saja.
Bahwa silaturahmi tidak berhenti di hari pertama, dan kehangatan tidak harus
dibatasi oleh kalender.
Madura, dengan caranya sendiri, mengajarkan bahwa kebahagiaan itu bisa diperpanjang. Bahwa rasa syukur bisa dirayakan ulang. Dan bahwa maaf—seperti ketupat—perlu dianyam, dirawat, dan dibuka perlahan, agar benar-benar sampai ke hati.
Selamat Lebaran Ketupat, Mari merayakan kehangatan moment ini sehangat opor dan kaldu!
