![]() |
| Ilustrasi screenshot video viral di Instagram. |
Lebaran di Madura itu, kalau boleh jujur, bukan sekadar momen saling memaafkan. Ia juga ajang uji nyali—antara iman yang sedang dikuatkan dan gendang telinga yang sedang diuji ketahanannya.
Tentu saja, ada sisi yang hangat. Nostalgia masa kecil, ketupat yang tak pernah cukup satu, dan keluarga besar yang tiba-tiba akrab setelah setahun hanya saling kirim “maaf lahir batin” via status. Semua terasa lengkap. Sampai kemudian… duar!—realitas kembali menyapa.
Ya, kita bicara soal petasan dan lampion. Tapi bukan petasan anak-anak yang sekadar “cetar, cetar cetar!!!” lalu mati gaya. Ini levelnya sudah seperti simulasi perang dunia mini. Suaranya menggema, kadang terasa lebih ambisius daripada konflik Israel-Amerika dan Iran yang sering kita tonton dan baca beritanya. Sementara lampionnya? Jangan bayangkan yang lucu-lucu seperti di festival. Ini lampion raksasa, yang kalau gagal terbang, potensinya lebih cocok masuk kategori “proyek pembangunan tak terencana.”
Menariknya, semua ini tidak dilakukan diam-diam di tempat terpencil. Tidak. Justru dirakit dengan penuh cinta… di rumah sendiri. Di tengah permukiman. Dekat dapur. Dekat kamar tidur. Dekat segala hal yang, secara teori, ingin kita lindungi dari ledakan.
Bagi para perakitnya, tampaknya ada filosofi hidup yang cukup konsisten: hiburan adalah hak segala bangsa, termasuk hak untuk mengabaikan risiko. Lecet sedikit? Biasa. Jari berkurang? Mungkin dianggap bonus pengalaman. Nyawa? Ya… semoga tidak sampai situ, tapi kalaupun iya, setidaknya sudah sempat bersenang-senang.
Kita masih ingat kejadian tahun lalu di salah satu desa di Pamekasan. Lampion raksasa yang gagal lepas landas, lengkap dengan mercon yang menggantung seperti dekorasi maut, akhirnya memilih mendarat di rumah warga. Hasilnya? Kerusakan di sana-sini. Untungnya, nyawa masih tersisa untuk diceritakan.
Tahun ini, ceritanya sedikit berbeda. Bukan tetangga yang kena, tapi para perakitnya sendiri. Rumah hancur, lima remaja harus dilarikan ke rumah sakit. Sebuah ironi yang pahit—ketika hiburan yang dirakit dengan tangan sendiri justru “membalas budi” dengan luka.
Sementara itu, beberapa desa kini mendapat label tak resmi: zona merah petasan. Polisi berjaga siang malam, seperti menjaga perbatasan negara. Bedanya, yang dihadapi bukan musuh dari luar, melainkan kreativitas warga sendiri yang sulit diprediksi.
Bagi warga lain, ini jelas bukan kebanggaan. Lebaran yang seharusnya tenang berubah jadi semacam festival ketegangan. Malam hari tak lagi sunyi, tapi penuh kemungkinan: apakah itu suara petasan, atau ada sesuatu yang benar-benar meledak?
Yang paling mengherankan, semua kejadian—video viral, korban luka, bahkan yang kehilangan nyawa—seolah hanya jadi tontonan, bukan pelajaran. Rasa takut tampaknya kalah telak oleh rasa ingin bersenang-senang. Seakan-akan dalam hierarki kebutuhan, hiburan duduk di atas keselamatan.
Mungkin, di benak sebagian orang, hidup tanpa mercon itu seperti Lebaran tanpa opor: terasa kurang lengkap. Hanya saja, bedanya, opor tidak pernah meledakkan dapur.
Dan di titik ini, kita jadi bertanya-tanya—apakah yang sedang dirayakan itu kemenangan menahan hawa nafsu… atau justru kebebasan untuk meledakkannya kembali?
