di Kedai Kopi
di manapun tempat kedai kopi buka selalu memancingku dengan harumnya, dengan suasananya, dengan ceritanya. berbeda dengan kantor harapan, tempat di mana aku menghitung pencapaian melebihi kecepatan jarum jam.
kamu pernah menyelinap dalam puisi menjadi pahit-benci, memikatku pada harum-wangi secangkir kopi, merencanakan doa terbaik menuntut nasib seperti menuntut ilmu hingga ke Eropa maka aku menuntut cinta hingga taman diantara surga dan neraka.
tahukah kamu wahai kasih, kemana aku selama kamu tak ada? kedai kopi tempatnya dimana aku meramu puisi terbaik untuk berdoa sepetimu, agar kita lekas meminang revolusi cinta!
2026
Kopi Pertama
malam ini kita berjaga di beranda, kau siapkan kopi dengan selaksa kisah masa muda di bangku sekolah, rasa kasih buat kita jadi betah mengamati bintang bercanda dengan malam.
kita bicarakan tentang guru yang digugu tapi tidak ditiru, tentang teman sebangku yang kau rindu, tentang pagi ketika hidup masih terasa mengantuk dan tidak menuntut untuk mencapai apapun.
kopi di meja hampir tandas, tapi percakapan justru menjerat kebohongan yang berusaha kita rapikan: perasaan cemas kehilangan, jalan hidup bagai teka-teki silang, tentang bagaimana di beranda ini kita sampai.
andaikan bulan gerhana, kecemasan ini akan tertawa.
kau sisakan ampas kopi untuk lambungku agar tidak nyaman tanpa pelukmu dan aku masih berani terjaga pada malam berikutnya saat pagi menyapu rahasia yang sengaja kita sisakan di meja.
2026
Kopi Kedua
di jam segini kopi adalah minuman berat, bukan soal selera, tapi prihal nyawa sepasukan tentara di kerutan kelopak mata dan mimpi nyaring yang tersisa dari tidur kemarin.
malam menyatu pada ampas kokain, kafein di lambung masih saja mengental saat kita sedang menukar jam tidur dengan ide beberapa lembar, bertaruh esok pagi debitur akan cukup ramah untuk memaafkan wajah kreditur beraroma kopi, aku janji tidak lagi pinjam puisi!
2026
Kopi Ketiga
jika laut punya palung mariana, dan aku belah sungai seperti Musa membelah samudra.
— aku mengukur kedalaman dari berapa hening yang bertahan, sebelum kau memutuskan untuk mengakhiri perbincangan.
— seperti kopi yang kita biarkan kehilangan sari pati di uapan, sejak pertama kali diseduhkan.
tapi palung mariana itu telah dipindahkan dalam matamu, sepertinya aku yang dulu belum memahami rindu.
2026
Kopi Keempat
matahari sedang mengumpat diriku sejak tiap pagi pulas di tidurmu, semalam aku masih sibuk mencari cara agar ampas ini berharga tanpa kembali pada semula.
antara hari yang melahirkan petani kopi, ada harapan ganjil saat melihat asap terakhir kebakaran rambutmu aku melihat dosa sedang dibagikan merata seperti zakat pada duafa cinta.
aku menutup buku, mematikan lampu, namun resah di kepalaku masih menuliskan namamu di sela lembar kitab, untuk biasanya kuberikan pada pengemis jalanan.
2026
_________
Hanif Nur Rifqillah, lahir di Jombang. 2021 mendirikan komunitas sastra Jeritan Kata dan aktif sebagai pimpinan redaksi majalah Galaksi hingga 2025, hingga kini masih menimba ilmu di Pesantren Al-Mardliyah yayasan Bahrul Ulum serta menempuh S1 Ekonomi di Universitas A. Wahab Hasbullah. Sebagian kecil dari karyanya dimuat berbagai media seperti Radar Jombang, Duniasantri.co dan sedang menyiapkan buku puisi pertamanya; Bahasa Ketiga Cinta. Ia bisa dihubungi melalui:
Nomor telepon: 085731929662
Media sosial: @Onlyy_Hanss
Alamat lengkap: dsn. Murangagung Kidul ds. Kebondalem kec. Bareng kab. Jombang prov. Jawa Timur
