Barangkali Kartini pun Tak Mampu Hidup di Masa Kini


Tiap 21 April kita memperingati Hari Kartini sebagai seorang perempuan pelopor emansipasi. Spirit emansipasi sejatinya lahir dari kegelisahan—dan kegelisahan itu tidak hanya dimiliki Kartini, tetapi juga banyak perempuan lain pada zamannya. Hanya saja, Kartini memiliki privilese: akses pendidikan, kemampuan menulis, dan kedekatan dengan relasi kuasa. Ia tidak hanya resah, ia mendokumentasikan keresahan itu. Ia menuliskan nasib perempuan, dan—yang lebih penting—membiarkan dunia membacanya.

Dari sanalah gagasan itu hidup. Dari surat-suratnya, emansipasi tidak lagi menjadi bisik-bisik sunyi, melainkan wacana yang diakui, dirawat, bahkan dirayakan hingga hari ini.

Emansipasi dalam kerangka yang dipikirkan Kartini adalah tentang persamaan hak antara perempuan dan laki-laki: kebebasan, kemandirian, serta akses pendidikan. Ia membayangkan perempuan yang tidak semata dikurung dalam kerja domestik, tetapi juga memiliki ruang untuk berpikir, belajar, dan menentukan hidupnya sendiri.

Jika diukur secara formal, banyak dari gagasan itu tampak telah ter-checklist. Perempuan kini memiliki akses pendidikan yang lebih luas—data BPS menunjukkan angka partisipasi sekolah perempuan terus meningkat dan hampir setara dengan laki-laki di banyak jenjang. Perempuan juga hadir di ruang kerja, bahkan dalam posisi strategis.

Namun, pertanyaan yang jarang diajukan adalah: apa setelah emansipasi?

Barangkali Kartini tidak sempat membayangkan bahwa setelah pintu-pintu itu terbuka, perempuan justru dihadapkan pada bentuk-bentuk penindasan yang lebih kompleks—lebih halus, tetapi tidak kalah menekan.

Kebebasan hari ini tidak hadir dalam ruang hampa. Ia datang bersama logika pasar. Tubuh perempuan menjadi komoditas, standar kecantikan dibentuk oleh industri, dan rasa percaya diri kerap ditentukan oleh algoritma. Perempuan tidak lagi sekadar berjuang untuk “keluar rumah”, tetapi juga harus bertahan dalam standar-standar yang terus berubah dan seringkali tidak manusiawi.

Di saat yang sama, beban ganda tetap melekat. Perempuan didorong untuk berkarier, tetapi tidak dibebaskan dari ekspektasi domestik. Ia harus sukses di ruang publik, namun tetap sempurna di ruang privat. Sebuah standar yang jarang benar-benar dibebankan secara setara kepada laki-laki.

Lebih jauh, ancaman terhadap tubuh perempuan justru semakin nyata. Data Komnas Perempuan dalam Catatan Tahunan (CATAHU) menunjukkan bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan terus meningkat, dengan kekerasan seksual sebagai salah satu yang paling dominan. Yang lebih mengkhawatirkan, pelaku seringkali bukan orang asing—melainkan orang-orang terdekat: keluarga, pasangan, bahkan institusi yang seharusnya melindungi.

Di titik ini, emansipasi tidak lagi cukup dibaca sebagai “akses”, tetapi juga harus dipertanyakan sebagai “keamanan” dan “keadilan”.

Kepelikan lain yang mungkin tidak dihadapi Kartini adalah ketidakpastian hidup di tengah situasi sosial-politik dan ekonomi global. Perempuan seringkali menjadi kelompok yang paling rentan terdampak—baik dalam krisis ekonomi, konflik, maupun perubahan kebijakan. Dalam banyak kasus, perempuan berada di garis depan untuk bertahan, tetapi tetap di posisi paling belakang dalam pengambilan keputusan.

Maka, menjadi perempuan hari ini bukan sekadar menikmati hasil perjuangan masa lalu, tetapi juga menghadapi bentuk-bentuk ketidakadilan baru yang lebih cair, lebih kompleks, dan seringkali tidak kasat mata.

Barangkali Kartini tidak membayangkan bahwa perjuangan akan berubah wajah—dari melawan keterkungkungan menjadi melawan ilusi kebebasan.

Barangkali Kartini pun akan kelelahan hidup di masa kini. Bukan karena ia lemah, tetapi karena medan juangnya tak lagi sederhana. Ketika gagasan seringkali kalah oleh arus, dan keadilan kerap kehilangan nyawanya.

Namun, justru di situlah pertanyaannya: jika Kartini hidup hari ini, apakah ia akan diam—atau kembali menulis?

Rofiatul Windariana

Seorang yang penuh antusias. Penikmat kopi, musik dan lingkaran diskusi. Suka seni tapi bukan seniman.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama